Hyperbolic Discounting

perang di dalam otak antara kesenangan instan sekarang vs tabungan masa depan

Hyperbolic Discounting
I

Mari kita jujur-jujuran sejenak. Pernahkah kita berjanji pada diri sendiri di hari Minggu malam, "Mulai besok, saya mau rajin nabung, makan sehat, dan setop jajan kopi mahal"? Di kepala, rencana itu terasa begitu logis dan mudah. Tapi begitu hari Senin tiba, jam dua siang, stres kerjaan melanda, dan tiba-tiba ada notifikasi promo makanan manis di layar ponsel. Jari kita bergerak sendiri menekan tombol pesan. Malamnya, kita menyesal sambil melihat saldo rekening.

Teman-teman, jika siklus ini terasa familier, saya ingin sampaikan satu hal penting di awal: tolong jangan terlalu keras pada diri sendiri. Kita sering mengutuk diri sebagai orang yang lemah iman, tidak punya tekad, atau pemalas. Padahal, yang sedang terjadi di kepala kita jauh lebih rumit dari sekadar kurangnya niat.

Saat kita berhadapan dengan sepotong kue cokelat hari ini melawan janji perut rata enam bulan lagi, atau sepatu diskon hari ini melawan dana pensiun tiga puluh tahun lagi, kita sebenarnya sedang menonton sebuah arena gladiator di dalam tengkorak kita. Ini adalah peperangan brutal yang melibatkan sejarah biologi yang sangat panjang.

II

Untuk memahami mengapa kita begitu lemah terhadap godaan instan, kita harus melakukan perjalanan waktu. Bayangkan leluhur kita puluhan ribu tahun yang lalu di sabana Afrika. Sebut saja nenek moyang kita ini si pemburu-pengumpul. Bagi mereka, hidup itu sangat keras dan tidak pasti. Hari esok adalah sebuah misteri.

Jika leluhur kita menemukan semak penuh buah beri yang manis dan berkalori tinggi, apa yang harus mereka lakukan? Apakah mereka akan menyimpannya untuk bulan depan? Tentu tidak. Belum ada kulkas. Buah itu akan busuk, atau lebih parah lagi, direbut oleh hewan buas dan suku tetangga. Strategi bertahan hidup paling cerdas saat itu adalah: makan semuanya, sekarang juga.

Otak kita berevolusi dalam kondisi kelangkaan tersebut. Alam bawah sadar kita didesain untuk meraup kesenangan instan karena di masa lalu, sekarang adalah satu-satunya waktu yang pasti. Masalahnya, dunia berubah dengan sangat cepat, sementara otak kita tidak. Kita hidup di zaman modern dengan akses internet, investasi reksadana, dan aplikasi ojek daring, tapi perangkat lunak di kepala kita masih sama dengan leluhur kita yang hidup di dalam gua. Otak kita masih berteriak, "Ambil sekarang, besok kita mungkin mati!"

III

Namun, kita tahu bahwa kita tidak lagi hidup di zaman purba. Kita punya akal sehat yang menyuruh kita menabung. Lalu, mengapa niat baik itu sering kalah?

Coba teman-teman renungkan pertanyaan klasik dari para ekonom dan psikolog ini. Jika saya menawarkan uang Rp 1 juta hari ini, atau Rp 1,1 juta bulan depan, mana yang kita pilih? Mayoritas dari kita akan memilih Rp 1 juta hari ini. Masuk akal, bukan? Uang tunai di tangan terasa lebih pasti.

Tapi mari kita putar sedikit skenarionya. Jika saya menawarkan uang Rp 1 juta dalam waktu lima tahun, atau Rp 1,1 juta dalam waktu lima tahun plus satu bulan. Mana yang kita pilih? Anehnya, dalam skenario kedua, mayoritas orang bersedia menunggu satu bulan ekstra untuk tambahan seratus ribu rupiah. Padahal jarak menunggunya sama-sama satu bulan!

Mengapa otak kita nge-glitch seperti ini? Mengapa kita tidak sabar untuk hari ini, tapi mendadak jadi sangat sabar jika itu urusan masa depan yang jauh? Para ilmuwan menyebut fenomena kebingungan ini dengan sebuah istilah yang terdengar rumit: hyperbolic discounting. Kita tahu ada yang salah dengan cara kita menilai waktu, tapi apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sel-sel saraf kita?

IV

Di sinilah sains membongkar rahasia terbesarnya. Melalui pemindai otak canggih atau fMRI, para ilmuwan saraf mengamati kepala orang-orang yang sedang mengambil keputusan finansial. Ternyata, kita secara harfiah memiliki dua sistem otak yang sedang berebut kendali.

Di sudut merah, ada limbic system. Ini adalah bagian otak purba kita, tempat emosi dan keinginan instan bersemayam. Ia bereaksi cepat terhadap dopamin. Saat kita melihat barang diskon, limbic system menyala terang benderang. Di sudut biru, ada prefrontal cortex. Ini adalah bagian otak modern kita, sang CEO yang bertugas merencanakan masa depan, berpikir logis, dan menimbang risiko.

Hyperbolic discounting terjadi karena sebuah ilusi optik psikologis. Otak kita mendiskon, atau mengurangi, nilai sebuah imbalan semakin jauh imbalan itu berada di masa depan. Seratus ribu rupiah sekarang terasa sangat nyata, sedangkan seratus juta rupiah saat kita pensiun terasa abstrak seperti dongeng.

Tapi penemuan yang paling mengejutkan, dan mungkin sedikit menyedihkan, adalah ini. Saat para ilmuwan menyuruh peserta eksperimen memikirkan diri mereka sendiri di masa depan (misalnya diri kita 20 tahun dari sekarang), area otak yang menyala sama persis dengan area yang menyala saat kita memikirkan orang asing yang tidak kita kenal di jalan.

Secara neurologis, otak kita menganggap "Saya di Masa Depan" adalah orang lain. Jadi, mengapa kita harus bersusah payah menabung, menahan lapar, atau berolahraga berat hari ini untuk seseorang yang bahkan tidak terasa seperti diri kita sendiri?

V

Kenyataan ini mungkin terdengar agak suram, tapi di sinilah letak titik baliknya. Dengan menyadari bahwa hyperbolic discounting adalah mekanisme bawaan pabrik, kita tidak perlu lagi terjebak dalam rasa bersalah yang beracun. Kita tidak bodoh; kita hanya sedang melawan sisa-sisa evolusi.

Lalu, bagaimana kita memenangkan perang ini? Kita harus belajar menipu otak purba kita.

Pertama, kita harus membuat masa depan terasa "sekarang". Beberapa studi menunjukkan, orang yang melihat foto diri mereka sendiri yang diedit menjadi tua dengan aplikasi, secara sadar akan mengalokasikan uang tabungan lebih banyak. Cobalah memvisualisasikan diri kita di masa depan secara detail. Jadikan dia sahabat kita, bukan orang asing. Bayangkan wajahnya, apa yang dia rasakan saat bebas dari utang, dan betapa berterima kasihnya dia pada kita yang sekarang.

Kedua, hentikan mengandalkan niat, mulailah mengandalkan sistem. Niat akan selalu kalah oleh limbic system yang kelelahan. Jika ingin menabung, potong otomatis dari gaji di awal bulan sebelum uangnya terlihat. Jika ingin diet, jangan sediakan camilan di rumah. Buat hal yang baik menjadi mudah, dan hal yang buruk menjadi sangat repot untuk dilakukan.

Perang antara kesenangan hari ini dan kebahagiaan esok hari mungkin tidak akan pernah benar-benar selesai. Otak kita akan selalu menginginkan kebahagiaan instan. Namun, dengan sedikit trik, kesadaran berbasis sains, dan empati pada diri sendiri, kita bisa perlahan-lahan membantu "Diri Kita di Masa Depan" mendapatkan kehidupan yang ia layak terima. Mari kita mulai dari langkah kecil hari ini.